Entri Populer

Minggu, 26 Agustus 2012

PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI DENGAN SANG SUYASA MENGENAI: “SUSILA”


12. PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI
DENGAN SANG SUYASA MENGENAI:
“SUSILA”


Sang Suyasa:
Gurunda, hamba sering mendengar kata-kata “Tat Twam Asi”. Apakah yang dimaksud?
Rsi Dharmakirti:
‘Tat Twam Asi’ adalah kata-kata dalam filsafat Hindu yang mengajarkan  kesosialan yang tanpa batas karena diketahui bahwa ‘ia adalah kamu’ saya adalah kamu dan segala makluk adalah sama sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial ini juga diresapi oleh  sinar-sinar tuntunan kesucian Tuhan dan tidak oleh jiwa kebendaan.
Tat artinya: Itu (Ia), Twam artinya: Kamu dan Asi artinya: Adalah.
Di samping merupakan jiwa kesosialan, filsafat hidup ‘tat twam asi’ ini juga merupakan dasar dari susila Hindu.
Susila adalah tingkah laku yang baik dan mulia yang selaras dengan ketentuan-ketentuan dharma dan yajna.

Selengkapnya:

PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI DENGAN SANG SUYASA MENGENAI: “TEMPAT SUCI”


11. PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI
DENGAN SANG SUYASA MENGENAI:
“TEMPAT SUCI”


Sang Suyasa:
Sudah banyak yang Gurunda uraikan tentang hal-hal yang suci. Orang-orang suci atau para rsi kita, sudah. Pustaka suci dan hari suci juga sudah. Adakah lagi yang patut hamba ketahui yang ada hubungannya dengan ketiga hal tadi.

Sang Dharmakirti:
Memang ada ananda, suatu hal yang tak boleh dilupakan dan merupakan tempat kita menghaturkan bhakti yaitu: TEMPAT SUCI.
Tempat-tempat suci yang dalam agama Hindu disebut Pura kahyangan, Candi atau Mandira itu ada empat macam, yaitu:
1.      Pura tempat untuk memuja dan mengagungkan kebesaran Tuhan Hyang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasinya disebut Pura Kahyangan (Sad Kahyangan).
2.      Pura tempat suci yang didirikan atau mengenang jasa para Pemimpin kerohanian atau para Dang Hyang yang disebut Dang Kahyangan.
3.      Pura yang digolongkan fungsionaris misalnya Pura di pantai, Pura di sawah, Pura di pasar.
4.      Pura atau tempat suci untuk memuja roh leluhur yang sudah dipandang suci atau roh para Rsi yang dianggap telah menjadi Dewa-dewa atau Bhattara-bhattari ini disebut pura Dadya, Pura Kawitan atau Pura Pedharman.

Selengkapnya:

PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI DENGAN SANG SUYASA MENGENAI: “HARI SUCI”


10. PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI
DENGAN SANG SUYASA MENGENAI:
“HARI SUCI”


Rsi Dharmakirti:
Anakku, sudah payahkah anakku mendengarkan uraian guru?

Sang Suyasa:
Oh, tidak Gurunda, bukan payah tetapi makin tertarik hamba mendengarkannya karena betul-betul merupakan penerangan baru bagi diri hamba. Malah hamba takut Gurunda sendiri yang telah merasa payah atau jenuh memberikan uraian.

Selengkapnya:

PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI DENGAN SANG SUYASA MENGENAI: “CARA SEMBAHYANG”


9. PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI
DENGAN SANG SUYASA MENGENAI:
“CARA SEMBAHYANG”


Sang Suyasa:
Gurunda, dalam uraian mengenai upacara tadi guru sering menyatakan perlu dilakukan persembahyangan. Mohon diberi penjelasan perihal sembahyang itu.

Rsi Dharmakirti:
Baiklah anakku. Ketahuilah bahwa ada tiga macam cara-cara sembahyang (muspa), yaitu:
1.      Muspa bersama  dengan diantar puja Sang Sulinggih.
2.      Muspa bersama yang tidak diantar puja Sulinggih.
3.      Muspa yang dilakukan oleh perseorangan.

Selengkapnya:

PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI DENGAN SANG SUYASA MENGENAI: “AWATARA”


8. PERCAKAPAN RSI DHARMAKIRTI
DENGAN SANG SUYASA MENGENAI:
“AWATARA”


Jadi awatara adalah perwujudan Sang hyang Widhi ke dunia dengan mengambil suatu bentuk yang dengan perbuatan atau ajaran-ajaran sucinya, memberi tuntunan untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan yang akibatkan oleh kegelapan awidya. Di dalam Bhagawadgita (II.7) disebut “Kapan saja dharma (kebenaran) mulai runtuh dan adharma (kejahatan) mulai merajalela. Aku menjelma kembali ke dunia untuk menegakkan dharma (kebenaran)”. Jadi bila dunia dalam penderitaan dan dikuasai oleh adharma maka Sang Hyang Widhi turun kedunia untuk menegakkan dharma. Dan dalam Purana ada disebut-10 Awatara dari Wisnu yaitu Matsya (ikan) Kurma (penyu), Waraha (babi hutan), Narasimha (manusia singa), Wamana (manusia cebol yang tinggal di gua-gua), Parasurama (manusia dengan kapak-sebagai nomaden), Sri Rama, Sri Krsna, Buddha dan Kalki (Awatara Wisnu yang belum datang). Semua Awatara ini bertugas untuk membimbing umat manusia menegakkan jiwa kedewataan sebagai sifat-sifat yang luhur dan memberantas sifat-sifat keraksasaan (keangkuhan, keangkaran dan lain-lain) dengan ajaran-ajaran sucinya yang menuntun ke arah kedamaian dan kesempurnaan hidup. Umpamanya, Sri Rama tidak lain dari perwujudan Sang Hyang Widhi (Wisnu) di dunia ini sebagai putra Raja Dasaratha untuk menghancurkan kejahatan (adharma) yang ditimbulkan pada raksasa, rakyat dari Rawana.

Selengkapnya: